Minggu, 08 Maret 2015

Jangan pernah menang dalam berdebat

Ferdi ruslan, seorang penjual rumah yang senang bertengkar dan berdebat, datanglah suatu hari seorang calon pembeli properti. Calon pembeli mencoba membandingkan properti ferdi dengan properti lain.

Darahnya menggelegak naik dan mulailah perdebatan. Semakin calon pembeli membandingkan semakin keras dia mendebat, dan akhirnya calon pembelipun pergi dengan marah.

Calon pembeli kedua datang dihari yang sama dan berakhir sama tidak jadi membeli, pembeli selanjutnya pun datang dihari yang sama dan sama juga hasilnya.

Ternyata kejadian ini sudah berlangsung cukup lama sekitar 3 bulan semenjak dia bekerja di salah satu agen pemasaran perumahan baru. Temannya yang bercerita. Akhirnya dia diperingatkan oleh bosnya, tapi karena hobi mendebat bosnya pun didebatnya. Bosnya hany menggelengkan kepala.

Perjalanan waktu dan mengikuti seminar pengembangan diri membuatnya sadar, bahwa yang jika dia melakukan itu terus dia tidak akan bisa menjual apapun. Dia telah kehilangan bertahun-tahun hidupnya untuk bertengkar dan berdebat, sekarang dia berusaha menahan diri dan terus menjaga mulutnya tertutup, usahanya kali ini berhasil.

Sebagai pecandu debat dia menyadari bahwa kita tidak bisa menang dalam sebuah debat, karena kalau anda kalah, anda akan kalah dan kalau anda menang anda kalah juga. Misalkan anda menang atas pihak lawan lalu bagaimana? Ya anda merasa senang? Lalu bagaimana dengan dia? Anda telah membuatnya rendah diri, anda telah melukai harga dirinya, dia akan membenci kemenangan anda.

Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa hanya ada satu cara untuk memperoleh yang terbaik dari sebuah argumen yang diperdebatkan - yaitu menghindarinya. Hindari perdebatan layaknya seperti anda menghindari ular dan gempa bumi.

Mencoba menang dalam debat sama halnya berusaha mengubah pikiran seseorang, anda mungkin akan sia-sia. Sebab seseorang akan mempertahankan pikirannya sendiri sekeras dia bisa. 

Langkah yang paling bijak adalah mendengarkan pendapatnya sampai selesai, lalu setujuilah pendapatnya, buatlah dia merasa penting, anda akan bisa membuatnya berhenti berbicara dan menyetujui pendapat anda.

Saya pernah berdebat sebentar lalu saya mengatakan, "Saya kira ini adalah masalah yang remeh dibandingkan keputusan-keputusan yang benar-benar penting dan sulit yang perlu anda buat, saya sudah melakukan studi tentang masalah ini, tapi saya hanya memperoleh pengetahuan saya dari buku-buku, sedangkan anda memperoleh pengetahuan anda langsung dari pengalaman. Kadang-kadang saya berharap memiliki pekerjaan seperti anda, itu bisa mengajarkan saya.

 Lalu dia menegakkan duduknya, mulailah dia berbicara tentang betapa sulit pekerjaannya terkadang dia harus berlaku licik. Lalu membicarakan keluarganya. Secara langsung dia membongkar kelicikannya dan keluarganya. Sebenarnya bagaimana ini bisa terjadi? Dari perdebatan yang keras hingga dia memelankan suaranya seolah-olah malah balik mendukung pendapat saya.

Orang tadi memperlihatkan salah satu kelemahan paling umum dari manusia. Dia menginginkan satu perasaan penting untuk menekankan otoritasnya, namun begitu perasaan pentingnya diterima, dan perdebatan itu berhenti karena dia merasa di izinkan untuk mengembangkan keakuannya, dia menjadi seorang manusia yang simpatik dan baik hati.

Prinsipnya : Satu-satunya cara memperoleh manfaat sepenuhnya dari perdebatan adalah Menghindarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar